Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan

Opini

Artikel, Opini, dan berita lain
Category >> Opini

Media Roadshow dan temu media Makassar

Posted by: admin_ppjk_Go.Id

Tagged in: Untagged 

Kepala Dinas Makassar yang diwakili Kepala Bidang PSDK, Kadivre IX Makassar dr. Feri Aulia MM, AAAK, Kepala Pusat Komunikasi Publik Drg. Murti Utami, MPH, Kapus P2JK Dr. Donald Pardede, MPPM, Prof. dr. H Abdul kadir SP. THT ( K ) Ph,D MARS, dan Perwakilan dari TNP2K Regi, sedang melakukan diskusi Tanya jawab temu media di grand clarion Makassar 27-2-2014 Ly

 


Mengapa Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Dibutuhkan? (1)

Posted by: admin_ppjk_Go.Id

Tagged in: Untagged 

Dengan bermodalkan seikat sapu lidi kecil yang amat butut dia menjual jasanya, tanpa perjanjian, tanpa kejelasan status, tanpa peduli, dan barangkali cuma peduli pada sejumput harap dan belas kasih pengguna jembatan penyeberangan itu. Sekali lagi saya tak tahu siapa namanya, tapi yang juga saya tahu adalah kedua kakinya telah diamputasi sampai setinggi lutut, sehingga ia berjalan dengan kedua lutut cacat itu.

Secara iseng saya menghitung anak tangga itu.Jumlahnya ada 44 anak tangga. Dari anak tangga terbawah sampai anak tangga yang teratas itu, ia menyapu setiap anak tangga dengan susah payah dan tertatih-tatih karena handicap nya itu. Pada ujung anak tangga yang terakhir itu ia letakkan sebuah kaleng berkarat bekas margarine yang diharapkannya sebagai tempat menaruh recehan. Sebagian orang memberi recehan itu atas imbalan upayanya membuat nyaman pengguna jembatan penyeberangan. Barangkali sebagian orang lain memberikannya karena iba atas penampilan fisiknya.

Saya bertemu dengannya sebanyak tiga kali dalam tiga hari berturut-turut dalam bulan puasa yang terik itu. Pada hari keempat saya melintas di jembatan penyeberangan itu saya tidak melihatnya lagi. Antara iseng dan penasaran saya menanyakannya pada penjual rokok yang mangkal didekat jembatan penyeberangan itu. Jawabannya membuat saya iba. Sore sebelumnya, dalam hujan yang lebat, si penyapu tangga itu terpeleset dari anak tangga tertinggi, berguling-guling dan mendapat luka parah pada bagian kepalanya.Tanpa sempat dibawa ke Rumah Sakit yang ada dekat lokasi itu, beberapa orang yang merubungnya membopongnya ke gubuknya tak jauh dari situ.

Saya tak ingin berandai-andai, tapi peluang untk sembuh, betapapun kecilnya, tentulah ada bila seorang penderita,bagaimanapun parahnya, dapat bersentuhan dengan pelayanan kesehatan. Sesungguhnya tidak ada warganegara kelas dua di republik ini, akan tetapi ketiadaan biaya pengobatan menyebabkan ia dipasrahkan untuk untuk menongsong ajal di gubuknya. Sungguh, saya tidak bermaksud menjual iklan dengan membeli emosi saudara. Saya juga tidak ada niatan sama sekali untuk menjual kepapaan. Barangkali saya terlalu mendramatisir, tapi saya amat percaya bahwa cerita seperti itu, dengan dimensi dan derajat serta lakon yang berbeda terjadi setiap saat di sekitar kita. Intinya, sistim pembiayaan pelayanan kesehatan kita yang masih dilakukan secara langsung dan tunai, seringkali menghambat akses masyarakat teradap pelayanan kesehatan yang mahal.

Keadaan ini secara tidak sadar telah menempatkan pelayanan kesehatan pada suatu tingkat eksklusivitas tertentu. Hal ini sering dinyatakan tidak "fair " karena pelayanan kesehatan seharusnya merupakan hak dasar yang dimiliki setiap individu, bukan menempatkan mereka yang mampu saja yang dapat menjangkau pelayanan kesehatan. Karakteristik kebutuhan pelayanan kesehatan yang "uncertainty" (ketidak pastian) seharusnya bisa menjadi pasti dengan perlindungan sistim jaminan pemeliharaan kesehatan.

Sistim pembiayaan tunai individu yang tidak adil seperti itu tidak dapat dipertahankan karena risiko pembiayaan pelayanan kesehatan pada tingkat tertentu tidak mungkin dapat diatasi oleh rata-rata masyarakat. Itulah sebabnya penggalangan solidaritas sosial kelompok masyarakat melalui sistim penjaminan pemeliharaan kesehatan menjadi kebutuhan, ketika biaya pelayanan kesehatan sudah sampai pada tingkat yang membahayakan akses rat-rata masyarakat.

Dengan cara penjaminan, setiap individu akan membayar biaya pelayanan kesehatannya dalam bentuk premi yang dibayar setiap bulannya. Besaran premi yang diperhitungkan secara cermat sebagai upaya memindahkan resiko sakit kepada bentuk biaya tentu relatif kecil bila dibandingkan biaya pelayanan kesehatan secara insidentil. Juga dalam prinsip asuransi ini merubah ketidak pastian kepada sesuatu yang lebih pasti.

Bentuk kegotong royongan seperti itu, akan membuat akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan menjadi lebih rasional. Kebutuhan pelayanan kesehatan dasar dengan demikian tidak lagi bergantung pada berapa banyak uang yang ada di saku.

Mungkinkah hal itu direalisasikan? Upaya-upaya dan langkah yang sedang dilakukan hari-hari ini pada tingkat pengambilan kebijakan, memberikan harapan akan terwujudnya hal itu.


Mengapa Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Dibutuhkan? (2)

Posted by: admin_ppjk_Go.Id

Tagged in: Untagged 

Apa sebetulnya yang menjadi sebab mengapa profesi dokter di Indonesia juga masih menjadi profesi idaman? Alasan klasik ideal yang dulu sering dikemukakan adalah berhubungan dengan profesi sentral dokter dalam masyarakat tradisional maupun masyarakat modern. Dokter mempunyai peran sosial sebagai penyembuh dimana banyak orang sakit menggantungkan harapan penyembuhan kepadanya.

Alasan lain yang sering tak dikemukakan adalah berkaitan dengan status sosial dan kemapanan seorang dokter. Meski tidak semuanya bernasib demikian, dalam berbagai contoh, dokter adalah komunitas masyarakat profesi yang menggiurkan status sosialnya karena transaksi yang khas dalam pelayanan kesehatan.

Tapi memang ada yang unik dalam transaksi pelayanan kesehatan antara dokter selaku pemberi jasa pelayanan kesehatan dengan pasien selaku klien. Setidak-tidaknya ada 3 (tiga) hal yang khas sebagai karakteristik pelayanan kesehatan yang mempengaruhi hubungan dokter-pasien.

Yang pertama adalah sifat ketidakpastian (uncertainty) dari resiko sakit itu sendiri. Datangnya suatu penyakit bisa tiba-tiba dan diluar dugaan. Keadaan ini akan menyebabkan kebutuhan pembiayaan kesehatan yang mendadak dan seringkali dalam jumlah besar yang memberatkan. Meskipun banyak dokter selaku provider juga peduli akan biaya pelayanan kesehatan ini, tapi sifat ketidak-pastian ini dapat pula dimanfaatkan secara sepihak untuk kepentingan yang menguntungkan pemberi jasa pelayanan kesehatan (dokter) itu sendiri.

Karakteristik yang kedua dalam transaksi pelayanan kesehatan adalah kebutuhan akan pelayanan kesehatan yang amat tidak elastis (inelastic). Ketika seseorang sakit, apalagi pada kasus kasus yang sifatnya penyelamatan nyawa (life saving), tuntutan in-elastisitas dari kebutuhan pelayanan kesehatan itu akan mendorong orang untuk mengorbankan apa saja untuk kesembuhan dirinya, meski pelayanan kesehatan yang canggih kerap kali akan membutuhkan biaya yang amat besar. Sifat in-elastisitas, yakni sesuatu yang tidak dapat ditunda pada pihak klien yakni pengguna jasa pelayanan kesehatan dapat pula dimanfaatkan oleh pemberi pelayanan kesehatan (dokter) secara salah untuk kepentingannya.

Karakteristik lain dari transaksi pelayanan kesehatan adalah adanya ketidak-seimbangan informasi dari pihak pemberi jasa pelayanan kesehatan (dokter) terhadap pengguna jasa pelayanan kesehatan/klien/pasien (information asymmetry). Informasi tentang bagaimana pelayanan pengobatan untuk penyembuhan suatu penyakit hanya dikuasai dan dipahami oleh pemberi jasa pelayanan kesehatan (dokter). Dengan demikian karena ketidak pahamannya pasien pasrah menyerahkan sepenuhnya upaya penyembuhannya kepada dokter. Dokter yang menentukan semua upaya yang perlu dilakukan untuk penyembuhan seorang pasien.Kebutuhan akan pelayanan kesehatan (demand ) dengan demikian tidak ditentukan oleh pengguna jasa tetapi oleh provider. Keadaan ini sering mendorong apa yang disebut sebagai supply induce demand. Artinya pemberi jasa pelayanan (dokter) dapat melakukan dorongan penggunaan pelayanan yang berlebihan, tidak sesuai standar dan nduksi-induksi lainya, dan pasien dalam keterbatasan pemahamannya menyerah pada induksi-induksi penggunaan pelayanan kesehatan yang tak perlu dan berlebihan karena menguntungkan dokter dari sisi ekonomis.

Dari uraian diatas, ketiga karakter pelayanan kesehatan yang khas itu mutlak perlu diintervensi agar terjadi kendali biaya dan kendali mutu. Disamping standarisasi pelayanan kesehatan, protokol pengobatan, bagian yang uga penting adalah metode pembayaran pada pemberi jasa pelayanan (dokter). Apabila dokter diikat dalam suatu kerjasama dengan pembayaan prospektif atau pre payment lainnya (kapitasi, budget system, DRG, dll) maka diharapkan induksi-induksi terhadap pelayanan kesehatan yang seringkali dimanfaatkan untuk keuntungan pemberi jasa pelayanan (dokter) tapi seringkali memberatkan pasien/klien tidak akan terjadi.


Aplikasi Jamkesmas

Opini

Media Roadshow dan temu media Makassar


Kepala Dinas Makassar yang diwakili Kepala Bidang PSDK, Kadivre IX Makassar dr. Feri Aulia MM, AAAK, Kepala Pusat Komunikasi Publik Drg. Murti Utami, MPH, Kapus P2JK Dr. Donald Pardede, MPPM, Prof. dr. H Abdul kadir SP. THT ( K ) Ph,D MARS, dan Perwakilan dari TNP2K Regi, sedang melakukan diskusi Tanya jawab temu media di grand clarion Makassar 27-2-2014 Ly     Read more

Oleh: , 20 Agt 2013.

Mengapa Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Dibutuhkan? (1)


Saya bertemu dengannya beberapa kali diujung masa hidupnya beberapa tahun yang lalu. Usianya sekitar pertengahan tiga puluhan. Saya tak tahu siapa dia, siapa namanya dan darimana asalnya.Saya juga tak tahu dimana tempat tinggalnya. Yang saya tahu, di bulan puasa di tahun 2001 itu dia bekerja dengan sedikit pamrih, membersihkan setiap anak tangga penyeberangan di depan Pasar Festival, Kuningan-Jaka...   Read more

Oleh: Administrator, 19 Mar 2008.

Mengapa Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Dibutuhkan? (2)


Sampai masa sekarang masih banyak anak-anak bercita-cita ingin menjadi seorang dokter. Cita-cita ini bukan hanya cita-cita anak-anak saja tapi seringkali juga merupakan cita-cita orang tua lebih dari cita-cita anak-anak itu sendiri. Di negara-negara yang sudah maju sekalipun seperti misalnya di Amerika, profesi dokter masih merupakan salah satu profesi favorit selain profesi pengacara.   Read more

Oleh: Administrator, 17 Mar 2008.

Poling

Menurut anda, dengan penggunaan software INA DRG, apakah masih ada penyimpangan klaim?




Results

Produk Peraturan

Surat Edaran Menteri Kesehatan Tentang Penggunaan Database Kepesertaan Program Jamkesmas

Lihat semua Surat Edaran

Agenda

May 2015
S M T W T F S
26 27 28 29 30 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31 1 2 3 4 5 6

Tamu Online

We have 5515 guests online

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini102622
mod_vvisit_counterKemarin87895
mod_vvisit_counterMinggu ini451626
mod_vvisit_counterMinggu Kemarin409095
mod_vvisit_counterBulan ini1958958
mod_vvisit_counterBulan Kemarin1047679
mod_vvisit_counterKeseluruhan18508358